Selasa, 29 Januari 2013

on

Oknum Polisi Main Pukul saat Razia Kendaraan, Sha­ka Musti Diguna Mahasiswa UPI YPTK PADANG Dianiaya Polisi

PADANG, HALUAN — Sha­ka Musti Diguna (21), ma­hasiswa salah satu perguruan tinggi ternama di Kota Pa­dang mengaku dipukuli be­berapa oknum anggota Polsek Padang Timur, ketika ter­jaring razia kendaraan ber­motor yang digelar di depan Mapolsek Padang Timur, Selasa (22/1) pukul 14.15 WIB.

Tidak terima dengan tin­dakan penganiayaan yang dilakukan terhadapnya, Sha­ka pun melaporkan kejadian itu ke Unit Propam Poresta Pa­dang, Rabu (23/1) dengan no­mor surat LP/03/1/2013/Propam.
Shaka menceritakan, saat razia gabungan digelar, ia mengendarai sepeda motor bersama salah seorang temannya, Agung. Ia ber­hen­ti 50 meter sebelum lokasi razia karena menyadari tidak memakai helm dan kaca spion.

Kejadian ini pun dilihat oleh salah seorang oknum polisi yang tidak mengenakan seragam dan memintanya berhenti. Karena khawatir motornya dicuri, Shaka pun memasukkan kunci kontak sepeda motor ke dalam sakunya.

“Karena saya tidak tahu siapa orangnya, saya masukkan kunci ke kantong. Saya khawatir ia hanya oknum yang mengaku sebagai polisi yang bisa saja membawa lari sepeda motor saya,” kata Shaka saat datang ke redaksi Haluan, Kamis (24/1).

Tidak lama kemudian datang lagi seorang oknum polisi yang langsung memukul Shaka dengan siku kanannya. Berikutnya datang lagi, seorang pria tanpa pakaian seragam polisi memukul Agung, yang belakangan diketahui Shaka bahwa orang itu adalah Kanit Reskrim Polresta Padang Timur Ipda Daniel Simangunsong.

Kemudian, kata Shaka, aksi pemukulan masih berlanjut ketika dia ditanyai dan dintegrogasi sampai pukul 16.30 WIB. Selama berada di Mapolsek ini keduanya beberapa kali kembali menerima pukulan yang mengakibatkan luka lebam di wajah, dan trauma akibat diintimidasi. “Bahkan sempat diancam akan di DO dari kampus,” katanya.

Kejadian ini berakhir ketika keduanya menyerahkan permasa­lahan ini kepada polisi dengan meminta motor beserta STNK, SIM, dan kunci motor dikembalikan. “Namun saya masih belum terima atas pemukulan yang dilakukan aparat terhadap saya dan teman saya,” ujar Shaka.

Masalahnya belum selesai sampai di situ. Warga sekitar yang melihat Shaka luka lebam, mengan­jurkan Shaka kembali ke Mapolsek Padang Timur menanyakan alasan mengapa dia dipukuli. Saat itu dia ditemani Agung dan salah seorang anggota TNI berpangkat Praka.

Seusai mendatangi Mapolsek, Shaka pun masih diintimidasi dan dipukuli, serta diminta mening­galkan dompetnya dan mengambil sepeda motor yang dibawanya siang tadi dengan berjalan kaki.

Merasa tidak terima dengan tindak penganiayaan yang dia alami, keesokan harinya, Shaka melaporkan kejadian ini ke Polresta Padang. Sampai saat ini motor beserta dompet, KTP, dan SIM masih ditahan Kanit Reskrim Polresta Padang Timur Ipda Daniel Simangunsong.

Kapolsek Padang Timur Kompol Erman ketika dihubungi tidak mengangkat telepon. Selain itu, Kanit Reskrim Ipda Daniel Sima­ngun­song menolak memberikan keterangan. (h/tim)
sumber : http://harianhaluan.com/index.php?op...dang&Itemid=70

Berikut cerita lengkapnya yang penyebar ambil dari catatan Facebook Sha­ka Musti Diguna.

JIWA SAYA TERANCAM,DIPUKUL DAN DIPERLAKUKAN OKNUM POLISI SEPERTI PENJAHAT

Kepada Yth; Kepada Yth;
1)   Bapak Kapolri RI di Jakarta
2)   Bapak Kapolda Sumbar
3)   Bapak Kapolresta Padang
4)   Bapak Ketua DPRD I Sumbar
5)   Bapak Ketua DPD RI Irman Gusman
6)   Bapak Anggota DPRRI Taslim
7)   Bapak Anggota DPR RI Nudirman Munir SH
8)   Bapak Ketua LBH Padang
9)   Bapak Ketua Komisi Kepolisian RI di Jakarta
10) Bapak Ketua Komisi Kejaksaan RI di Jakarta
11) Bapak Pimpinan Redaksi Posmetro Padang
12) Bapak Pimpinan Redaksi Haluan Padang
13) Bapak Pimpinan Redaksi Singgalang Padang
14) Bapak Pimpinan Redaksi Padangekspres Padang
15) Bapak-bapak Pimpinan Redaksi Media Nasional di Jakarta
16) Ketua PWI Pusat
17) Ketua PWI Sumbar
18) Ketua AJI Sumbar
19) Pimred Padangtv
20) Pimred Favorit TV
21) Kepsta TVRI Sumbar
Assalamu’alaikum WW
Salam damai di bumi Indonesia yang adil dan sejahtera dalam hukum yang senantiasa menjadi pelindung atas masyarakatnya.
Bapak-bapak yang saya hormati. Tidak kemana badan ini hendak mengadu, ketika mana saya diperlakukan seperti tidak diperlakukan bagaikan manusia. Saya ditekan,diancam, dipukul berkali-kali oleh oknum polisi Ipda Danial Partogi Simangunsong kanit Reskrim Polsekta Padangtimur Padang. Kemudian, beberapa milik saya disandra oleh oknum itu.Seperti motor orangtua saya dan dompet saya.
Dan yang membuat saya trauma adalah ketika mana, oknum itu mengancam saya berkali-kali, dan saya merasa keselamatan jiwa saya terancam.
Saya yakin, polisi adalah pelindung masyarakat. Hanya oknum yang membuat lembaga pelindung itu menjadi tergerus citranya.
 Supaya kejadian serupa tak terulang kembali, saya berharap para  oknum polisi yang menciderai saya tanpa alasan yang jelas tersebut dapat diusut secara hukum.
Terimakasih banyak.
Wassalam
Shakka Musti Diguna

==============================
Lampiran:
1)   Surat Tanda Penerimaan Laporan Polisi
2)   Potokopi KTP
3)   Tulisan Pengakuan Saya
TULISAN PENGAKUAN SAYA YANG TERANCAM JIWA
TIDAK BERHELEM
AKU DIPERLAKUKAN
OKNUM POLISI SEPERTI PENJAHAT
(Disiksa, diintimidasi,diancam,dipukul berkali-kali)
Aku seorang mahasiswa. Usiaku 20 tahun.Namaku Shaka Musti Diguna. Adikku satu orang. Namanya. Kami terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Kepada kedua orangtuaku, aku memanggil beliau Abi dan Ummy. Abiku seorang PNS.Umiku ibu rumah tangga. Keluarga kami adalah keluarga yang damai yang penuh dengan kasih sayang. Biarpun kurang ekonomi, kata Abi kita harus menyukuri nikmat Tuhan Allah swt. Karena kami hanya berdua bersaudara, Abi dan Ummy memasankan kepada kami bahwa kami harus sekolah tinggi-tinggi. Sesusah apapun Abi, kata Abi aku dan adikku Ranti harus bisa menjadi orang pintar. Orang yang bermanfaat bagi orang lain kelak. Ajaran Umi dan Abi; untuk hidup kita harus jujur dan taat. Sering Abi menasihati kami, bahwa berlakulah sesuai dengan alur dan patut berhukum pantas. Letakkan sesuatu pada tempatnya. Keadilan itu ada, begitu kata Abi.  Dan Tuhan sayang pada umat yang menegakkan keadilan dan meruntuhkan kebhatilan. Dan hak harus ditegakkan. Karena hak adalah kebenaran. Begitulah didikan Abi pada kami, sampai kini.
Dan aku selalu sedih dan prihatin bilamana “keadilan” itu lenyap. Lalu menyiksa orang yang tidak berdaya.
***

PERISTIWA SATU
Hari itu, Selasa tanggal 22 Januari 2013, sekitar pukul 14.15 Wib.
Hari itu aku baru pulang membayar uang kuliah di Universitas Putra Indonesia (UPI) YPTK. Aku ditemani Agung Tirtayasa, sahabatku. Kami mengendarai sepeda motor Beat warna putih nopol BA 6814 WM. Motor itu atas nama Abiku. Motor itu pecah bodinya karena masuk lubang oleh adikku, Ranti. Motor itu belum sempat diperbaiki.
Karena terburu-buru,  kami lupa pakai helem.
Di depan Polsek Padang Timur ada razia. Tapi jauh dari tempat razia—sekitar 50 meter---aku berhenti. Karena aku menyadari bahwa kami tidak mengenakan helem. Mendadak seseorang tergesa-gesa menghampiriku. Seseorang itu  langsung menarik lenganku. Ia berkata: “ hoiiii....wa-ang ka tapi.Ka tapi ang!” (hei kamu, menepi!!). Saat dia berkata begitu dia menarik lenganku makin kuat. Mungkin dia mengira aku hendak lari. Lalu dia menarik keras stang motorku sebelah kiri.Saking kerasnya, karet pedal stang sebelah kiriku lepas dari gagangannya.

Aku takut. Orang ini siapa, aku tidak kenal. Sering terjadi perampasan motor di jalan raya, dengan cara mengaku-ngaku sebagai aparat atau polisi. Lalu kunci kontak motor aku lepaskan dan diam-diam aku masukkan ke dalam saku kantong celanaku. Sementara, orang itu tetap juga mahegang (memegang) dan menarik motorku seraya mengatakan: “ malawan wa-ang ha? Wa-ang malawan?”(Kamu mau melawan ya ??). Dalam hati aku berpikir, yang aku lawan apa dan siapa.Aku tidak mengerti.Kejadiannya begitu cepat.
Sangat cepat. Orang berbadan gemuk, perutnya agak buncit dan memakai topi Baretta (topi yang sering dipakai seniman) itu langsung memukul ku dengan siku kanannya. Kuat sekali pukulan yang mengenai pipi kiriku itu. Kuat. Pipiku bagai diterjang batu. Aku terpekik: “Aduh...!”. Aku langsung turun. Motor oleng dan nyaris rebah.Agung masih duduk di belakang. Waktu aku menjerit kesakitan, oknum itu dengan suara tinggi berkata: “ Aden polisi ko mah...!”(saya ini polisi)

Aku tak sempat berpikir, karena sakit. Kulihat Agung turun dari motor memasang standar motor itu. Agung menepikan motor itu. Agung memasangkan karet pedal motorku itu. Aku berada di belakang Agung. Oknum yang menyikut aku tetap berdiri agak kesamping dariku. Ia seperti sangat marah pada kami.
Sementara itu, dari kejauhan, persis dari depan Mapolsek Padang Timur (tempat razia digelar) seseorang berlari---seperti mengejar ke arah kami. Lelaki berbadan tegap itu, begitu sampai ke arah kami—karena Agung di depan—langsung saja menyarangkan tinjunya ke Agung seraya mengatakan: “Malawan wa-ang tadi?Malawan wa-ang tadi?” (kamu melawan ya??) .Kini, giliran Agung yang terpekik dan menjerit kesakitan. Agung hanya diam saja, tak berkata-kata.Selain menyimpan dan merasakan sakit sendiri. Bayangkan,  oknum itu memukul Agung dengan gaya melompat dan seperti menghuja sekuat tenaga.
Aku makin bingung. Kejadiannya kok begini. Aku dan Agung kok mendadak diperlakukan seperti penjahat kelas kakap. Lelaki berbadan tegap itu, setelah memukul Agung langsung terkejar-kejar menuju ke arah aku. Dengan cepat pula ia berkata sambil memukulku yang tak jauh berdiri dari Agung: “ Wa-ang ciek !” (kamu juga). Prakk, tinjunya bersarang ke pipi sebelah kananku. Goyang rasanya dunia. Pemandanganku mendadak menjadi kelam. Tapi aku kuat-kuatkan, aku tetap berdiri. Jangan sampai rebah dan lalu terkapar. Karena, aku khawatir terhempas sendiri karena dipukul, lalu membentur aspal, sering menyebabkan kejadian yang sangat fatal. Sekuat apapun tinju itu, sesakit apapun, aku harus tetap bertahan. Ya, Allah; beri aku kekuatan. Aku terus berdoa dalam kejadian yang tak kumengerti benar. Yang aku tahu, kesalahan aku adalah tidak mengenakan helem. Tapi mengapa sebegini parahnya, jadinya?

Orang yang datang kemudian itu belakangan aku ketahui bernama
Ipda Daniel Partogi Simangunsong (selanjutnya kusebut DPS) , jabatannya  Kanit Reskrim Polsek Padang Timur .
          Orang yang memukul  saya dengan sikunya tadi yang berpakaian preman itu kemudian mendorong-dorong kami ke arah Mapolsek Padang Timur yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari TKP. Sementara, Agung didorong-dorong oleh oknum Kanit DPS.
          Untuk mengusir rasa sakit dan menghilangkan ketegangan serta kecemasan yang amat sangat, sambil menuju Mapolsek Padang Timur , aku mengeluarkan sebatang rokok.Membakarnya. Menghisapnya. Ketika rokok hampir habis, Oknum Kanit DPS sambil jalan berkata: “ Marokok se lah wa-ang taruih, den injak-injak kapalo wa-ang tu?”(merokok aja terus, saya injak-injak kepalamu)
          Spontan aku buang rokok itu. Tak bisa aku membayangkan ketika kepalaku diinjak-injak dengan sepatu. Tak sanggup aku menahan sakit. Sakit yang tadi ditinju dengan siku yang mengenai pipi kiri dan ditinju dengan pukulan yang mengenai pipi kananku, sakitnya yang kini berdenyut-denyut dan membuat mataku berkunang, bahkan perutku mual seperti hendak muntah, masih terasa. Apalah jadinya, badanku yang kurus ini ketika diinjak-injak. Membayangkan itu aku tak sanggup. Makanya juga, aku membuang lekas-lekas rokok itu. Jangan sampai gara-gara merokok nanti, aku benar-benar diinjak-injak. Itu mengerikan.Aku merasa, bahwa saat ini posisiku dan posisi Agung tak ubahnya bagaikan samsak, tempat empuk menyarangkan pukulan.
          Bahkan sambil jalan itu pikiranku sampai kepada kematian. Bila aku mati karena sesuatu yang tak aku ketahui benar sebabnya, aku rela. Tapi sebelum itu, aku harus tahu, sebab apa aku dan Agung disiksa? Dan sebelum mati, aku ingin ada orang yang mengabarkan kepada Abi dan Umiku, bahwa aku mati bukan mati sebagai penjahat, tapi adalah sebagai rakyat yang ditangkap karena tidak berhelem lalu disiksa. Tapi, pada sisi lain aku juga tidak rela mati, karena mati yang begitu tentu mati dalam kesia-siaan. Dan apapun kejadiannya, aku tetap tidak akan pernah menerima perlakuan para oknum itu, memukul kami tanpa “pasal” yang jelas.
          Dan lekas-lekas, pikiran begitu aku buang. Aku harus berjuang untuk mempertanyakan keadilan itu. Dan kalau aku mampu, aku menegakkannya.Minimal, sebatas upayaku.
          Di ruang Mapolsek, ada meja, ada kursi ada lemari. Tidak tahu aku, ruang apa itu. Sebab, di ruang itu tak bernama.
          Ada tiga orang berpakaian preman. Kurasa mungkin petugas di sana. Tampak olehku, salah seorang yang tiga itu adalah pria yang tadi meninjuku dengan sikunya. Wajah mereka sungguh menakutkan. Aku seperti berada di bawah teror dan ancaman psikis. Padahal, dari dulu-dulu aku merasakan dan dikatakan oleh Abi, bila terjadi sesuatu yang membahayakan diri atau diri terancam, sebaiknya melapor atau pergi ke kantor polisi. Dalam bayanganku yang diajarkan Abi adalah bahwa polisi adalah pelindung kita dari berbagai serangan atau ancaman yang datang dari orang yang hendak berbuat jahat kepada kita. Dan Abi membayangkan bahwa polisi dan kantornya adalah tempat yang aman, nyaman dan damai.
          Tapi, pada saat sekarang ini.  Pada peristiwa yang kualami ini, kata Aby tak kutemui. Kantor polisi ini bagiku saat itu seperti sebuah medan perang yang menciptakan neraka bagiku. Orang-orang memandangku dengan mata tajam dan menikam serta menyudutkan.Aku merasa seperti seseorang yang melakukan kesalahan yang sangat besar dan layak disiksa. Itu pikiranku saat itu. Aku benar-benar cemas. Aku berdoa, semoga tak terjadi apa-apa. Dan saat itu, aku diam-diam menangis dalam hati, terbayang wajah Aby dan Umi sewrta adik perempuanku Ranti. Mereka pasti tidak tahu bahwa aku kini sedang dalam persoalan yang aku tidak tahu intinya apa. Inti soal ini apa?
          Salah seorang dari tiga orang lelaki (petugas?), yang satunya kurus, bertopi...tiba-tiba menuju aku. Ia berkata: “ Wa-ang nan malawan tadi?” (kamu yang melawan tadi ?). Tamparan kerasnya mengenai pipi kiriku. Pukulan di pipi kiri yang tadi saja sakitnya tak reda-reda, kini ditampar sekali lagi. Tak bisa aku mengungkapkan betapa pedih dan sakit yang kurasa. Mau saja rasanya aku mengalah dengan cara pingsan. Tapi tetap juga badan aku kuat-kuatkan sekalipun kepala ku rasanya nyeri, badan hoyong.Aku nyarus mual. Bumi bagaikan bergoyang. Untung pada saat itu, Tuhan tak jauh dariku. Pesan Abi, seberat apapun masalah, dekatkan dirimu pada Tuhan. Aku berzikir  dan berdoa. Ya,Allah, jauhkan aku dari siksaan ini.
          Kemudian salah seorang petugas itu menyuruhku dan Agung mengeluarkan dompet. Setelah mengeluarkan dompet, saku aku dan Agung diperiksa. Badan kami digeledah. Agung tidak bawa dompet. Aku saja yang bawa dompet. Aku disuruh mengeluarkan seluruh isi dompetku itu.
          Isi dompetku adalah KTPku, ATM BRI dan BNI, SIM, uang Rp 8 ribu, uang koleksiku yakni uang 10 ringgit, uang 1 riyal pemberian dari kakak kandung Aby yang kupanggil ibu yang pulang dari tanah suci, dan uang Rp 100 lama, pemberian nenek---mama aby.
          Setelah semua digeledah. Petugas itu bicara: “ Tangga-an sarawa wa-ang...tangga an sarawa waang tu sadoalahe!”.(lepaskan celanamu !!!) Takut terjadi apa-apa dan takut pula nanti dituduh melawan petugas, Aku dan Agung lekas-lekas menanggakan sarawa (celana) kami. Tapi saat menanggakan sarawa itu tangan Agung di mata ikat pinggangnya. Saat itu salah seorang oknum petugas---yang berbadan kurus—berkata dengan nada tinggi kepada Agung: “ Di saku juo tangan wa-ang lai.Tangga an sarawa wa-ang tu!”. Saat itu Agung tampak olehku teraduh menahan sakit karena ditampar lagi oleh oknum berbadan kurus tadi.
          Setelah sarawa kami lepas, tinggal celana boxer dan kolor, tubuh kami digeledah lagi. Mereka tidak menemukan apa-apa di tubuh kami. Juga tidak menemukan hal ihwal yang bertentangan dengan hukum di dalam dompet saya.
          Kemudian saya bertanya kepada salah seorang petugas.
          “ Bang boleh saya memasukkan kembali isi dompet saya ini?”
          Petugas itu menjawab, “boleh”. Lalu ia menyuruh kami memasangkan kembali celana kami ini. “Lakek an sarawa wa ang capek, tunggu di ruang tuggu tu!”(cepat pasang celana, dan tunggu di ruang tunggu!) kata petugas itu.
          Ada sekitar satu jam, kami dibiarkan duduk dalam diam di kantor itu. Waktu satu jam itu saya manfaatkan untuk “istirahat” seraya melawan rasa sakit yang makin lama makin memberati kepala saya. Tetap juga saya berpikir dalam hati, selain tidak mengenakan helem, kira-kira salah saya apa?
          Di dompet saya ada SIM. Ada STNK. Motor saya, bodinya pecah. Tidak lengkap.Karena terjatuh oleh adik saya. Jadi kesalahan saya menurut saya adalah tidak pakai helem, tidak ada spion dan bodi motor kapnya pecah.
          Lau saya berpikir dan saya juga mengetahui kalau ada pelanggaran ketika razia, dengan tidak pakai helem, motor tidak lengkap, prosesnya adalah tilang.Lalu diselesaikan di pengadilan.
          Perlakuan yang saya terima kok tidak begitu. Lima puluh meter sebelum razia saya berhenti, karena menyadari saya tidak pakai helem. Lalu ada oknum berpakaian preman seperti “menyergap kami”. Lalu kami dipukul.Dipukul tidak sekali dua kali.Dipukul tidak oleh satu oknum, tapi tiga orang oknum bergantian memukul kami yang tak berhelem ini.
          Satu jam menunggu dan dibiarkan tanpa proses yang jelas di Mapolsek itu, motor saya yang dibawa ke sebuah ruang di Mapolsek itu—yang lokasinya tak jauh juga dari tempat saya duduk, saya lihat seorang petugas yang meninju saya dengan siku tadi memotret motor saya dengan kamera HP-nya.
          Kemudian saya dipanggil.
          “ Hoi, kamarilah wa-ang!”(hoi, kamu kesini)
          Saya mengikutinya.
          Saya disuruh masuk ke sebuah ruangan. Di situ ada polisi berseragam lengkap.
          Petugas itu bertanya pada saya.
          “Apa kesalahan  kamu”, nada polisi yang bertanya itu ramah.
          “Salah saya Pak, tidak pakai helem dan motor saya tidak pakai spion....”,jawab saya.
          Kemudian Pak Polisi yang baik itu berkata: “ Malawan awak tadi?”(apa kamu melawan tadi)
          “Indak adoh awak malawan doh Pak...”(saya tidak melawan pak), saya menghirup nafas dalam karena menahan rasa sakit dan nyeri “ indak mungkinlah Pak Polisi ambo lawan Pak.(tidak mungkin saya melawan polisi pak).. Saya tahu bahwa saya tidak mengenakan helem dan motor saya tidak pakai kaca spion”. Saya diam.Membayangkan kembali kejadian yang begitu sangat cepat. Lalu saya berkata seraya menahan sakit yang amat sangat.
          “ Tapi Pak....saya tidak terima perlakuan yang ditimpakan kepada saya. Apa salah saya Pak? Saya bukan penjahat. Saya bukan kriminal. Dompet saya sudah digledah. Saya bukan narkoba. Saya bukan pembunuh.Saya bukan perampok. Saya hanya seorang mahasiswa yang tersasar ke tengah razia. Dan saya pun, karena tahu salah sedang tidak mengenakan helem, tidak menyongsong razia, saya berhenti jauh sebelum lokasi razia.Dan ada petugas berpakaian preman yang seperti membabi-buta memukuli kami dan mendorong-dorong kami”, saya diam lagi. Pak Polisi itu diam pula mendengar saya bicara. Sungguh baik. Kali ini, saya tidak dipukul lagi.
          “ Pak, maaf Pak.Saya tidak diterima dipukul dan diperlakukan seperti ini Pak?”
          Pak Polisi yang tadi sedang atau seperti hendak menyerahkan buku tilang kepada saya itu, mendadak berhenti menulis. Kemudian ia tampak seperti orang berpikir. Pak Polisi itu lalu berdiri.
          “Tunggu sebentar ya.Bapak keluar sebentar ya!”
          Pak Polisi tadi tampak pergi.
          Akhirnya Pak Polisi tadi memanggil saya ke ruang tunggu tempat saya menunggu satu jam tadi.
          Saat itu datang oknum polisi (?) berpakaian orange.
          Ia bertanya kepada saya : “ Iyo malawan awak?”( apa kamu melawan tadi?)
          Saya jawab, “ Indak adoh wak malawan doh Pak. Gilo awak malawan mah pak, polisi lo nan awak lawan lai” (saya tidak melawan pak, mana mungkin saya melawan polisi).
          Setelah itu ia berkata sendiri: “ Sekarang kita bicara soal laki-laki.Awak bicara samo-samo laki-laki”. Ia diam sebentar.Kemudian petugas itu berkata lagi: “ Jadi apo nio wa-ang kini sabananyo?”(apa maumu !!!)
          Saya menjawab: “ Kalau soal takah itu Bang, awak nio honda awak kalua. Masalah salasai. Tapi, bang awak tetap indak manrimo perlakuan takah iko. Dihakimi sendiri lalu dipukul berkali”.(kalau soal seperti ini, saya mau motor saya keluar, dan masalah selesai, namun saya tidak terima dengan perlakuan tadi, saya dipukul berkali-kali.)

          Petugas yang tadi bertanya kepada saya, kemudian berlalu. Ia tampaknya menuju ke sebuah ruang dan mungkin sedang berbicara dengan seseorang yang mungkin juga komandannya.
          Tak lama kemudian datang seorang yang memukuli saya dan Agung. Orang itu, yang saya tahu namanya adalah oknum Kanit DPS.
          Oknum Kanit DPS dengan suara tinggi berkata: “ Sekarang apa mau kau?”
          Saya jawab : “ mau saya bang, masalah ini selesai dan honda saya keluar. Tapi saya tetap tidak menerima perlakuan seperti ini. Masak kami dipukuli kayak gini bang?”
          Oknum Kanit DPS menjawab:” Wa-ang malawan tu iyo. Ka wa-ang puta honda ang untuk lari”.(kamu tadi melawan, karena mau melarikan diri dari razia)
          Dalam hati saya menjawab: “ mana mungkin saya lari.Sedangkan kami berhenti sendiri.Lalu langsung dipegang oleh oknum polisi tadi. Kalaupunh ada keempatan menghindari razia, saya tak akn lari.Paling-paling saya akan menunggu hingga razia selesai...atau berupaya mencari helem”.
          Saya hanya diam. Diam saja.
          “ Jadi mau wa-ang apa?” Oknum Kanit DPS kembali meninggikan suaranya.
          Saya menjawab:” Kini awak nio honda awak lapeh bang. Tapi awak tetap indak tarimo diperlakukan takah iko bang.. Indak adoh pasalnyo doh bang”(saya mau motor saya kembali, tapi saya tidak terima dipukul, apa tidak ada pasalnya?)
         “oooo mode itu?Mangecek soal pasal lo wa-ang?(jadi kamu bicara soal pasal ya !!!)” kata oknum Kanit DPS itu seraya mengatakan dengan suara tinggi: “ Pajak honda wa-ang se mati..!” ( pajak motor kamu aja mati)
          Saya terpurangah: “Ah, serius mati Bang?”
Dalam hati saya menjawab: “setahu saya pajak motor itu telah dibayar Abi berlakunya hingga 24 Oktober 2013”.

Kanit DPS:  “ Pajak motor wa-ang se mati, wa-ang mangecek soal hukum lo gai. Mahasiswa apo lo wa-ang tu. Pantek (maaf oknum ini bercarut)  wa-ang mah...Wa-ang kuliah dima?” (pajak motor kamu aja mati, mau bicara hukum kamu disini, Pant*k, dimana kamu kuliah??)
Saya : “Di UPI bang....”
Kanit DPS : “Apo jurusan wa-ang?” (Jurusaan apa?)
Saya : “Sistim informasi, bang Fakultas ilmu komputer...”

 Saat itu salah seorang oknum berpakaian kemeja berbadan gemuk mengenakan celana pendek ikut menyela: “ Kenal wa-ang dengan dosen yang namonyo Dio?” (apa kamu kenal dengan Dio?)
          “Saya tidak kenal bang?”
          Sumpah, saya benar-benar tidak mengenal adanya dosen UPI yang bernama Pak Dio. Nama lengkap Pak Dio, juga tidak disebutkan. Kalau disebutkan nama lengkap beliau, mungkin saya kenal...paling tidak pernah mendengar namanya.
          Makanya saya diam.
       Kemudian Kanit DPS bertanya kembali :
Kanit DPS :  “Wa-ang semester berapa?” (semester berapa kamu?)
Saya : “ Mau naik semester 6 Bang”
         
Petugas yang berkemaja tadi menyela kembali: “ Ma KTP wa-ang.Baok kamari KTP wa-ang.Aden telepon dosen wa-ang.....” ( berikan KTP mu, saya akan menelepon dosenmu?
          Kemudian oknum itu seperti menghubungi seseorang dengan Hpnya.
          Saya mendengar ia berkata dengan orang yang dihubunginya di HP itu tadi.
          “Hallo, tahu wa-ang jo mahasiswa wa-ang yang namonyo Shaka Musti Diguna?”(Hallo, apa kamu tahu dengan mahasiswa yang bernama monyo Shaka Musti Diguna?
          Sambil bicara seperti itu, sambil terus memegang Hpnya oknum itu tadi berkata menghadap saya; “Den buek wa-ang di DO dari kampus wa-ang....” (saya akan membuat kamu di DO dari Kampus)
          Lalu saya menjawab karena kaget akan di DO pula :” atas dasar apa saya di Do Bang?”
          Jawabnya: “Aden bisa mambuek wa-ang di DO. Ijan Aden pula nan wa-ang lawan lai”.(saya bisa membuat kamu di DO, jadi kamu jangan coba-coba melawan!)

Kemudian Oknum
Kanit DPS berkata: “ Jadi apo nio wa-ang sabananyo” (Jadi apa maumu sebenarnya!!)
Saya :  “ Nio awak bang honda wak kalua. Tapi awak tetap tidak terima perlakuan seperti ini Bang. Masak awak dipukuli bang”,(saya motor saya kembali, tapi saya tidak terima dipukuli) jawab saya seraya menahan sakit dipukul.
Kanit DPSJadi itu mau wa-ang, tidak terima perlakuan itu. Wa-ang ingin tahu, apo mau jo nio aden.Nio aden, wa-ang masuak ka dalam sel.Honda wa-ang den tahan dulu. Honda wa-ang jo aden.KTP Wa-ang jo Aden. Kunci honda wa-ang jo aden. Den proses wa-ang dulu.Pokoknyo terserahlah, ba-a nio wa-ang”. (jadi itu mau mu, tidak terima diperlakukan seperti itu, saya mau kamu masuk Sel, motor kamu ditahan, KTP ditahan, Kunci motor ditahan, dan kamu akan diproses, pokoknya terserah apa maumu)

          Mendengar saya akan dipenjarakan, saya nyaris hampir pingsan mendengarnya. Saya kaget,
Saya : “ Salah awak apo Bang. Apo salah awak dipanjarokan Bang....”(salah saya apa, kenapa saya mau dipenjarakan)
Kanit DPS : Wa-ang mangareh juo baru....!”(kamu melawan saya dari tadi). lalu oknum Kanit DPS dengan suara tinggi berkata: “ Sia urang di balakang wa-ang?” (siapa orang dibelakangmu)

Saya menjawab tertahan dan sangat pelan sekali: “ Indak adoh, doh Bang....” (Tidak ada bang)
          Saya menjawab jujur. Memang pada saat itu tak ada orang di belakang saya. Yang ada di belakang saya tampaknya adalah motor-motor yang  ditangkap hasil razia. Kalau saya jawab ini, mungkin terlalu polos. Saya yakini, saya pasti kena pukul lagi.
          Kalau yang Pak Kanit maksud ini adalah siapa “beking” atau orang yang saya banggakan, kalau saya jawab dengan jujur adalah Abi saya, nanti salah pula. Kami memang membanggakan Abi, seorang sosok ayah yang sangat sayang kepada keluarganya.
          Pikiran saya, kalau soal yang dibanggakan, saya bangga pada pahlawan bangsa.Banyak tokoh yang saya banggakan dan menjadi panutan saya. Terutama tokoh-tokoh yang senantiasa menegakkan keadilan dan kebenaran.
          Bila maksud oknum Pak Kanit ini adalah siapa keluarga “wa-ang” atau orang kampung “wa-ang” yang hebat-hebat, jelas itu bukan urusan saya. Sebab kata Abi, hebat tidak hebatnya seseorang bukan soal Mamak, bapak, Om-tante, orang kampung kita yang hebat-hebat.Bukan soal itu.Soal hebat dan soal hidup adalah soal kita. Bukan soal orang lain. Pak Harto, kata Abi hanya anak seorang petani miskin. Pak Chairul tanjung hanya anak singkong. Tapi mereka hebat. Maka dalam hidup saya, kata Abi itu menjadi prinsip bagi saya, walaupun setahu saya banyak juga orang kampung Abi menjadi orang hebat yang patut dicontoh. Dan sebagian kaum dari pihak Abi, memang banyak juga yang sukses-sukses.
          Sering Abi menasehati kami, cobalah contoh Pak Halius Hosen SH, urang Alai Gunungpangilun yang dengan kegigihan belajar kini sukses berkarir dengan menjadi Ketua Komisi Kejaksaan RI. Banyak orang Alai Gunungpangilun yang sukses-sukses. Mulai dari Perwira dan pengusaha dll hingga politisi dan wartawan atau pengacara. Itu jadikan teladan kita. Tapi kita tidak boleh mengapit kepala harimau.Kita adalah kita. Mereka teladan kita.
          Pesan Abi begitu.Untuk jadi orang sukses, harus gigih dan berjuang sendiri.Tak perlu jual nama-nama dunsanak, kaum, atau orang kampung awak nan hebat-hebat. Kesuksesan kita adalah motivasi kita. Pesan Abi itu saya camkan dalam-dalam di hati ini.
          Sekali lagi saya menjawab pelan ketika ditanyakan siapa urang di balakang saya.
Saya :  “Tidak ada orang di belakang saya, Bang!” suara saya pelan sekali karena tidak tahan menahan sakit.
Kanit DPS : Tu, ba-a kok gaya wa-ang babahayo bana.Bantuak urang ka iyo bana. Pantek ” ,(lau kenapa kamu berani menantang saya, Pant*k. kata-kata yang tidak patut diucapkan) seraya menggertak saya dengan mengangkat kakinya seolah-olah akan mendongkak saya.
       Lalu dia berkata keras:
Kanit DPS : Lai tahu wa-ang, kama ka wa-ang usut aden indak takuik doh.Wa-ang kadukan aden..tapi wa-ang den panjarokan dulu,Den masuak an wa-ang dulu! Tapi apo nio wa-ang sabanyo kini?Mahasiswa apo wa-ang ko.Ba-a negara ka maju kalau mahasiswa takah wa-ang ko..!” (apa kamu tahu, jika kamu mengadukan perbuatan saya, kamu akan saya penjarakan dahulu, tapi, apa mamu sekarang, !!!, bagaimana negara bisa maju kalau mahasiswa seperti kamu..!)
          Dia diam.Lalu berkata lagi.
Kanit DPS “Lai tahu wa-ang ba-a Indonesia ko indak maju-maju?” (apa kamu tahu kenapa Indonesia tidak maju..!)
Saya : “Lai Bang.Karena korupsi Bang!” (Tahu bang, karena korupsi)
Kanit DPS : “ Selain korupsi, apo lai?” (selain koruspi, apa lagi)

 Saya diam.
Kanit DPS : “Itu se wa-ang indak tahu doh.Mahasiswa apo wa-ang ko?” (itu saja kamu tidak tahu, Mahasiswa apa-an kamu ini..!)

          Benar-benar terpuruk perasaan saya. Tekanan. Ancaman. Bertubi-tubi menghancurkan bathin saya. Ya, Allah, apa salah saya kok ditekan seperti ini benar?

Kanit DPS :  “Jadi apo nio wa-ang kini sabananyo ko?” (jadi apa maumu sebenarnya ??)
          Baru Agung sahabat saya menjawab ketika Agung ditanya oleh oknum DPS itu :” Pendapat Agung bagaimana?
Agung (teman saya) :Jadi gitu bang ha.Awak iyo salah indak pakai helem Bang. Kok iyo malawan awak kecek abang tadi, awak mintak maaf.Kini KTP,SIM,kunci honda jo honda dek abang. Keputusan di tangan abang....” jawab Agung pelan sekali, “Awak mintak dilepaskan Bang!” ( jadi begini bang, saya salah karena tidak pakai helm, kalau saya melawan tadi, saya minta maaf, kini KTP, SIM, Kunci motor ada pada abang, jadi keputusan ditangan abang.)

          Saya kira, sama dengan saya, Agung merasa tak tahan diancam-ancam terus dan ditekan sejadi-jadinya. Agung ingin kami segera dilepaskan.
          Kejadian sudah dua jam berlalu.Hari sudah pukul empat sore.

Oknum Kanit DPS itu berkata pada saya: “ Ha, model Agung ko wa-ang mangecek!” (Seperti itu berbicara)
Oknum Kanit DPS kemudian menyerahkan kunci honda,SIM dan STNK tanpa surat tilang.
Oknum Kanit itu kemudian berkata kepada kami : “ Saya juga mintak maaf telah memukul kalian. Kalau mau berkendaraan, pakai perlengkapan.Helem,spion!”
          Motor dikeluarkan dari Polsek. Kami meninggalkan kantor itu.
***
PERISTIWA DUA
          Kembali ke rumah saya lelah. Saya lihat Umi. Iba hati saya. Umi dan Abi sudah susah payah membesarkan saya. Entah mengapa, Umi seperti kaget melihat wajah saya yang lebam-lebam. Umi bertanya seraya menangis. Umi mengira saya dikeroyok orang. Umi bertanya apa salah saya? Umi tahu, selama ini saya tidak pernah berkelahi dengan orang. Saya berusaha menyembunyikan kejadian sebenarnya. Akhirnya saya tak bisa mengelak. Saya ceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Mendengar itu Umi meratap. “ Kita orang kecil Nak...!”
Hanya itu kata Umi.
          Malam sekitar pukul 21.30 WIB, saya ke warung sebelah rumah hendak beli makanan kecil. Kepala saya berdenyut-denyut.Seperti ada yang bengkak dan memberat di kepala saya.
          Di warung itu tampak banyak pemuda Taruko Satu Kuranji tempat saya tinggal. Di sana ada Pak RT.Namanya Pak Alimin. Ada Pak Pen, tetangga saya. Pak Pen pensiunan PDAM Padang. Kemudian ada Ajo dan beberapa orang pemuda antara lain Bang Ozi yang kuliah di politeknik Unand, sebelumnya Bang Ozi kuliah di Hukum Unand.
          Melihat muka saya lebam,  Bang Ozi bertanya. “Dek muko Oka? Kok lebam-lebam....”(kenapa mukamu, lebam begini//)

Saya menjawab seraya mengelus-elus muka yang lebam dan mengeranyam rasanya: “ Adoh urang razia di Polsek Padang Timur. Awak indak bahelem, indak bakaco spion. Sudah tu beberapo urang oknum polisi maninju....”(Ada razia di polsek, saya tidak pakai helm, ltidak pakai spion, setelah itu, ada beberapa oknum polisi meninju saya)
         
Bang Ozi bilang : “ Bodoh Oka mah. Iko negara hukum.Aparat indak buliah main pukul tanpa alasan yang tepat. Iko melanggar hukum namonyo ko”.(bodoh kamu, ini negara hukum, aparat tidak boleh main pukul tanpa alasa, ini sudah melanggar hukum)

Saya katakan :” Agung kena pukul juga Bang....!”
          Lalu menyela Pak Pen. “Agung kanai lo? Ha, kakak kanduangnyo kan tentara tu. Kecek-an lah ka abangnyo!”(Agung juga kena pukul..kakaknya kan seorang tentara, katakan sama dia)
          “Imbau Agung tu kamarilah”, (panggil agung kesini) kata Pak Alimin yang juga ada di warung itu.
          Saya memangil Agung untuk datang ke warung, karena dipanggil beberapa pemuka masyarakat Taruko yang prihatin.
          Kemudian para pemuka masyarakat itu bertanya bagaimana kronologi kejadiannya. Saya dan Agung menjelaskannya dari A hingga Z.
          “ Ozi, telepon Bang Cen kakak kandung Agung!” kata Pak Pen kepada Ozi. Bang Ozi langsung menelpon kakak Agung yang bertugas di Kodim Padang.
          Bang Cen menyuruh kami, yakni saya, Agung, Ivand dan Ozi untuk datang ke asrama TNI Simpangharu. Pas sampai di situ, Bang Cen sudah menunggu di depan rumahnya.
          Kemudian kami ceritakan peristiwa ini pada Bang Cen.
          Bang Cen ingin memastikan, apa kejadian ini benar atau tidak. Bang Cen ingin konfirmasi kepada oknum yang memukul kami itu. Bang Cen tampaknya tak ingin informasi sepihak. Begitulah Bang Cen yang tak gampang menerima dan memercayai pengaduan sepihak. Sebagai tentara Bang Cen memang kami kenal sebagai tentara “ninik-mamak” bagi orang kampung kami. Orangnya sabar dan bijaksana.
          Bang Cen lalu mengajak kami untuk ke Mapolsek Padang Timur.Bang Cen mengenakan pakaian sipil. Bukan pakaian tentara. Bang Cen hanya ingin tahu duduk tegak persoalan. Bagaimanapun, hati siapa yang tak perih bilamana adaik kandung dipukul tanpa alasan yang jelas. Bagi Bang Cen, prinsipnya tampaknya adalah bahwa aparat adalah pelindung rakyat.
          Sampai di Mapolsek, Bang Cen bertanya ke seorang petugas Piket Polsek Padang Timur.
          “ Selamat malam Pak. Saya ingin tanya, apa benar telah terjadi tindak pemukulan terhadap adik-adik saya ini?” Bang Cen menunjuk ke kami .
          Petugas Piket menjawab.
          “Sebentar Pak, saya lapor ke Kanit dulu!”
          Tak lama kemudian, datang saja serombongan polisi berpakaian preman ke Mapolsek itu.
Kemudian Oknum Kanit DPS mengajak Bang Cen ke ruangnya. Kemudian saya dan Agung disuruh juga masuk ke ruang Pak Kanit DPS.
          Bang Cen bertanya : “ Pak, apa benar adik saya dipukul. Mengapa dipukul. Dan siapa yang memukul?”
          Oknum Kanit DPS menjawab seraya memegang dadanya: “ Saya sendiri yang memukul mereka Pak!”
          Bang Cen menjawab: “Ooo jadi Bapak? Tapi saya tidak terima adik saya dipukul tanpa alasan tak berlandas hukum!”
          “ Ooo jadi Bapak tidak terima? Terus maunya Bapak bagaimana?”
          Bang Cen menjawab: “ Saya mau ini dilaporkan secara hukum!”
          Oknum Kanit DPS menjawab: “ Silakan!”
          Lalu Bang Cen bertanya: “ Nama Bapak siapa?”
          Oknum Kanit DPS menjawab :” Tuh lihat sendiri. Nama saya di pampang di pintu “
          Kemudian Bang Cen pamit keluar ruang untuk melihat namanya. Saya dan Agung mengikuti Bang Cen keluar ruang.
          Masih terdengar oleh Bang Cen, oknum Kanit berkata pada Agung: “ Mentang-mentang abangmu tentara ya, berani kau ya?        Hati-hati kau ya?”
            Kemudian oknum Kanit DPS itu berkata pada saya: “ Hoi mahasiswa anjing, hati-hati kau ya!”.
          Nadanya sungguh membuat saya merasa hampir mati ketakutan.
          Ketika akan keluar, oknum Kanit DPS bertanya pada Bang Cen: “ Bapak pangkatnya apa?”
          Bang Cen menjawab: “Praka, Pak!”
          Kemudian Oknum DPS itu menjawab seraya tegak pinggang: “ Praka pangkek wa-angnyo!” (cuma praka pangkat kamu>.!!!)
          Bang Cen tidak gubris. Dia diam saja.
          Kemudian, masih di depan Bang Cen, oknum Kanit itu berkata pada Agung: “ Hoi, hati-hati kau ya!”
          Langsung Bang Cen menjawab: “ Adik saya jangan diintimidasi!”
          Bang cen langsung pergi naik honda bersama Agung dan meninggalkan Mapolsek itu.
          Saya masih menstater honda saya. Tapi tidak hidup. Saya mencoba mengengkolnya. Ketika motor saya nyala, langsung seseorang mencabut kunci motor saya. Kemudian saya dikerubungi oleh oknum-oknum yang berbaju preman. Sementara, Bang Cen dan Agung sudah jauh berlalu pergi meninggalkan Mapolsek itu.
          “Hoi mahasiswa anjing, keluarkan dompet kau!” Oknum DPS itu seakan-akan bakal meninju saya. Oknum yang tadi siang meninju saya dengan sikunya berkata: “ Kato wa-ang lah damai, tapi wa-ang kadukan pula ke abang wa-ang!”(kata kamu tadi sudah damai, tapi kamu mengadu..!!)
          Dalam hati saya berkata: “Sumpah, saya tidak mengadu”.
          Kecemasan saya luar biasa.Dikerubungi oleh orang-orang kekar. Panik saya. Cemas yang luar biasa itu sulit saya gambarkan. Jiwa saya terganggu mengingat peristiwa itu. Saya bagaikan orang yang akan siap dieksekusi para algojo.
          “Kaluaan dompet wa-ang, tinggakan di siko sadoalahnyo!” (keluarkan Dompet kamu) kata Oknum Kanit DPS itu.
          Saya masih bertahan.Tidak mau mengeluarkan dompet. Takut terjadi sesuatu yang lebih buruk pada saya!
          Tanpa saya sadari, oknum Kanit DPS itu langsung memukul pangkal telinga saya. Saya hoyong. Hendak rebah. Bumi berputar, Telinga saya mendenging luar biasa. Saya rasa, sebentar lagi saya mati. Saya berzikir sejadi-jadinya.Dan berdoa minta perlindungan Tuhan.
          Kemudian saya keluarkan dompet saya.
Ketika saya mengeluarkan dompet saya, oknum Kanit DPS meninju kening saya. Ondeh. Tidak bisa saya mengungkapkan betapa sakitnya. Yang saya tahu kening saya bengkak sebesar telur puyuh. Saya menjerit! “ Ampun Bang.Sakit Bang!”. Salah seorang terdengar oleh saya berkata: “Mati lah wa-ang!” (rasain kau)
          Kemudian Oknum Kanit DPS berkata: “ Wa-ang tingga-an dompet wa-ang. Ambiak honda wa-ang tadi baliak....!” kamu tinggalkan dompet, dan ambil motor kamu tadi.)
          Dompet itu ditaruh di meja piket. Muka saya yang bengkak dan lebam dipoto. Saya disuruh balik ke rumah menjemput honda tadi siang. Saya ke Mapolsek pada malam itu mengendarai motor Abi supra fit warna merah. Motor supra fit ini beserta dompet saya “disandra”  oleh oknum Kanit DPS.
          Saya disuruh berjalan kaki menjemput honda saya  yang tadi siang di rumah. Saya berjalan kaki hingga ke asrama TNI Simpangharu, tempat Bang Cen.
          Bang Cen kemudian menyuruh saya pulang untuk istirahat. Bang Ozi menelpon pemuda taruko, yakni Bang Dede untuk menjemput kami.
***

PERISTIWA III
          Abi benar-benar merasa tertekan mendengar kejadian yang menimpa kami. Kami orang lemah.Kami orang kecil. Kami rakyat badarai. Tapi saya yakin, keadilan masih ada. Saya tetap bangga dan cinta pada polisi. Kalau ada kesalahan, saya yakin, itu hanya ulah oknum saja. Masih banyak polisi yang baik-baik, seperti kata Abi. Saya yakin, keadilan pasti ada. Sementara, saya selalu gelisah mendengar ancaman oknum Kanit DPS yang mengatakan : “Hoi mahasiswa anjing, hati-hati wa-ang yo!”(hoi mahasiswa anjing, hati-hati kamu..!!)
          Jiwa saya merasa terancam. Kemana saya hendak mengadu. Diupukul oleh oknum polisi,      diancam...itu membuat hidup saya dalam kecemasan. Maka, atas beberapa saran pemuka masyarakat Taruko dan beberapa tokoh-tokoh saya disuruh untuk melapor ke Polresta Padang.
          Saya melapor sehari setelah kejadian, yakni tanggal 23 januari 2013. Laporan saya diterima oleh Briptu Desrico Musliyadi di unit Propam Polresta Padang. Surat Tanda Penerimaan Laporan Polisi itu Nomor: LP/03/I/2013/PROPAM.
          Isinya adalah :
          “ Yang Bertanda tangan di bawah ini menerangkan pada hari Rabu tanggal 23 Januari 2013  pukul 09.30 WIB telah datang ke unit Propam Polresta Padang seorang laki-laki warga negara Indonesia yang mengaku bernama:
          Nama        : Shaka Musti Diguna
          Umur         : 21 Tahun
          Suku          : Minang
          Pekerjaan  : Mahasiswa
          Alamat       : Komplek Taruko I Blok BB no 18 RT 02 RW 11 Kel Koronggadang kecmatan Kuranji Padang

 Telah datang melaporkan tentang perkara telah terjadinya dugaan pelanggaran disiplin berupa pemukulan yang dilakukan Ipda Daniel Simangunsong Kanit Reskrim Polresta Padang dalam melaksanakan razia di depan Polsek Padang Timur Padang terhadap pengendara sepeda motor......”
(Selengkapnya Surat Saya lampirkan)
          Ketika laporan saya diproses, salah seorang anggota polisi itu bertanya kepada Kanit Provos : “Pak, apa perlu korban kita visum?” .Pak Kanit di depan saya dan Agung menjawab : “ Tidak perlu karena poto korban sudah ada dan tersangka sudah mengaku”.
          Saya ingin kasus ini diproses secara hukum. Supaya tak jatuh korban selanjutnya hanya gara-gara oknum polisi. Karena saya merasakan, kerusakan mental dan trauma yang amat sangat. Itu mengganggu pikiran. Sampai sekarang, saya masih takut dan cemas ketika terngiang kembali ancaman oknum Kanit DPS itu. Keselamatan jiwa saya terancam. Dipukul oleh oknum polisi saya yakin akan dibela oleh hukum melalui tangan polisi juga.
          Sampai kini, motor Abi (honda Supra fit merah) beserta dompet saya berisikan uang Rp 300 ribu dan KTP serta SIM serta 2 STNK motor kami masih disandra oleh oknum Kanit DPS. Kalau saya menjemputnya, saya takut terjadi apa-apa pada diri saya.
          Biarlah hukum yang menjemputnya. Biarlah kebenaran yang menyelesaikannya. Saya yakin; keadilan adalah hak manusia.
          Mudah-mudahan, kejadian seperti ini cukup sampai pada diri saya. Masyarakat lain tak boleh ikut menjadi korban. Dalam hati kecil saya, saya telah memaafkan para oknum itu, tapi tidak pernah memaafkannya secara hukum. Hukum harus ditegakkan sekalipun langit runtuh, begitu ucapan yang pernah saya dengar.
          Demikian pengakuan ini saya buat sebenar-benarnya dalam keadaan sadar. Apapun yang tertulis di pengakuan ini dapat saya pertanggungjawabkan secara hukum dan kebenaran. Dan segala sesuatu yang terjadi pada tulisan ini atau apa akibatnya saya menyampaikan suara hati atas peristiwa yang menimpa saya ini sepenuhnya adalah menjadi tanggungjawab saya secara pribadi.
Padang 24 Januari 2013

Salam Keadilan di Negeri yang Damai

Lanjutan.....
Berita Terbaru 29 Januari.
Padang, Haluan — Shaka Musti Diguna (20), korban penganiayaan DS, oknum perwira polisi dengan pangkat Ipda, Kanit Reskrim Polsek Padang Timur, Padang, ternyata tidak hanya memukul namun juga mengambil dompet korban yang berisi uang Rp 300 ribu dan menyita satu unit sepeda motor, tanpa adanya kejelasan hukum atas barang-barang tersebut.

Hal ini di ungkapkan Koordinator Divisi Pembaharuan Hukum dan Peradilan LBH Padang Era Purnama Sari, Senin (28/1) kemarin.

Diungkapkannya, Shaka Musti Diguna tidak hanya dipukul dan diancam. Namun oknum polisi tersebut juga telah merampas dompet milik Shaka yang berisi uang senilai Rp 300 ribu, 2 buah kartu ATM, 2 buah STNK dan satu unit sepeda motor jenis Honda Supra Fit, dengan nomor polisi BA 3369 AL.

Era juga menceritakan kronologis motor tersebut dirampas. Menurutnya, motor tersebut diambil paksa oleh oknum polisi tersebut ketika Shaka dan kakak Agung ingin mengkonfirmasi masalah tindak kekerasan yang telah dilakukan oleh oknum polisi tersebut terhadap kedua korban.

Ternyata saat akan pulang Shaka dicegat. Dompet beserta isinya dan sepeda motor milik orang tuanya disita oleh polisi tersebut. Bahkan yang bersangkutan memerintahkan Shaka untuk pulang dengan berjalan kaki. “Apakah itu bukan perampasan, mengambil motor dan dompet beserta isinya tanpa alasan hukum yang jelas?” tanya Era.

Selain itu Era juga menyayangkan kondisi mental aparat kepolisian di Sumatera Barat, yang dinilai sudah sangat memprihatinkan. Sejak awal Januari 2013 hingga Senin (28/1) kemarin, sudah terjadi 6 tindakan kekerasan yang di lakukan aparat kepolisan, (selengkapnya lihat grafis-red) terhadap warga sipil. “Apakah masih pantas polisi kita sebut sebagagi pelayan masyarakat?” tanya Era.

Era melanjutkan, LBH Padang mengecam segala tindakan kekerasan dan penyalahgunaan wewenang serta tindakan semena-mena terhadap masyarakat sipil. “Dengan tewasnya kakak beradik Faisal dan Budri di Sijunjung, hendaknya menjadi catatan dan goresan tinta merah oleh petinggi kepolisian dalam melihat tindakan arogansi oknum polisi di Ranah Minang ini, “ ujar Era mengingatkan.

Terpisah, Koordinator Police Wacth Sumbar, Ilhamdi Taufik yang dihu­bungi Haluan, Senin (28/1) menilai, tindakan kekerasan yang dilakukan oknum kepolisian harus dipidana. Namun, polisi dapat melakukan tindakan kekerasan dalam kondisi tertentu. “Tapi, tidak semua tindakan kepolisian itu harus dengan kekerasan. Polisi dilatih dan dididik bukan untuk melakukan kekerasan, namun untuk mengayomi masyarakat dan menciptakan kea­manan dan keten­tera­man hidup m­a­sya­ra­kat,” ujar Ilhamdi.

Selain itu, Ilhamdi juga mengatakan, se­harusnya polisi bekerja dengan standar ope­rasionalnya, sesuai de­ngan ketentuan yang sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan. “Jika polisi sudah bekerja sesuai dengan SOP tersebut, hal-hal yang tidak di­inginkan tidak akan terjadi,” tukas Ilhamdi. (h/hri)


Bagikan Info ini di :